Jumat, 09 Mei 2008

Kilas Balik : Kunjungan Ibu Surabaya

21 Maret s/d 6 April 2008

Tanggal 21 Maret s/d 6 April 2008 yg lalu, ibu dari Mas Yani datang ke Bekasi.

Ini adalah kunjungan beliau yang perdana sejak rumah di Beruang Raya kami tempati.

Aisyah, Azizah, Ibrahim sangat senang sekali dengan kedatangan Uti mereka. Ada suasana baru di rumah.


Uti Aisyah juga baru kali ini bisa melihat langsung wajah Ibrahim. Maklum, semenjak kelahiran Ibrahim, semua nenek & kakeknya hanya melihat dari gambar dan mendengar suaranya dari telepon saja.

Aku juga merasa senang karena ibu membantu mengerjakan PR-PRku yang numpuk. PR menyelesaikan jahitan baju-2 yang sobek. He…3x…Semenjak kegiatan membuat cokelat menyita waktuku, kegiatan menjahit terpaksa kutinggalkan. Alhamdulillah, semuanya jadi kelar.



Di sela-sela waktu, ibu juga belajar membuat cokelat. Siapa tahu, jika nanti buka cabang di Surabaya, ibu bisa jadi instrukturnya. Lagi pula, ibu tidak bisa tidur malam, kalau aku lagi bikin cokelat. Suara ketok-ketok cetakan cokelat selalu mengganggu ibu yang mau tidur. Maklum, bikin cokelatnya di meja makan, dekat kamar yang ditempatin ibu, dan juga pada malam hari, dimana anak-2 pada tidur. Alhamdulillah, beberapa kali mencoba bikin cokelat, ibu sudah lancar bikin sendiri. Malah benar-2 berniat mau jualan cokelat di Surabaya. Jadi, pas ada waktu, kami ajak ibu ke toko bahan-bahan kue di Bekasi. Ibu kami belikan bahan cokelat, alat pelumer cokelat dan beberapa cetakan.


ke toko bakery, Azizah tertidur di mobil


Ibrahim menunggu di mobil

Semenjak ibu datang, kami jadi sering makan pecel di kala sarapan. Ibu rajin jalan pagi, sekedar untuk membeli pecel di tempat langganan kami. Biar sudah sepuh, ibu lebih kuat jalan beli pecel dari pada aku. He…3x…

Tanaman lidah buaya kami pun jadi rapi. Maklum, sehabis dipindah dari depan ke belakang rumah, belum sempat ditanam lagi oleh mas Yani. Lidah buaya itu hanya ditaruh saja. Untung saja, semuanya gak mati duluan.

Ibu memang gak bisa kalau diam saja. Selalu ada saja yang dikerjakan. Sampai-sampai, tas keresek yang berantakan di belakang rumah pun jadi rapi. Kalau ibu kuat, malah ibu mau bantu ngerapiin kardus-2 yang numpuk bekas pindahan di belakang rumah. Tapi, itu sungguh berat, dan gak jadi dikerjain. (Ketahuan nih kalau rumah pada berantakan. He... 3x…).

Ibu orangnya low profile, gak neko-neko. Kata almarhum Bapak, ibu gak pernah nuntut macam-2 sama bapak. Orangnya nriman, menerima apa adanya. Gak ngoyo kalau pingin sesuatu.

Kehadiran ibu diperpanjang, dari rencana yang Cuma satu minggu, menjadi 2 minggu. Maklum, di Surabaya ibu lagi gak ada temannya. Mas Dody lagi ada tugas ke luar kota, dan mbak Dewi lagi mudik ke Palembang. Jadi, waktu pulang balik ke Surabaya, mas Yani minta si Azmi, khadimat kami, menemani ibu. Si Azmi sih senang aja, karena ini pengalaman pertama dia naik pesawat. He..3x...


di Bandara Soekarno Hatta - Jakarta

Kehadiran ibu yang Cuma 2 minggu, terasa singkat bagi kami yang setiap harinya jauh dari ibu. Kalau ada kesempatan lagi, insya Allah, kami diberi waktu lagi untuk bertemu lebih lama. Kami bisa ngobrol banyak sepanjang waktu. Dan hal inilah yang diinginkan ibu, semenjak bapak tiada.

Sampai jumpa ya Uti....

Ika Yohana



Catatan kecil : Mampir dulu beli Donut

1 komentar:

eshape waskita mengatakan...

Waduh, Ibrahimnya lucu banget tuh...
jadi pingin ikut nggendong dia

kalau udah besar mau nggak main bola sama pak dhe?

salam