Selasa, 07 Juli 2009

Akhirussanah

Sabtu, 27 Juni 2009 yang lalu, aku harus bangun pagi-pagi.Hari itu aku tidak mau terlambat.Soalnya, itu adalah hari terakhirku menjadi anak TK.

Aku sudah berlatih beberapa minggu di sekolah. Teman-temanku juga,termasuk adik-adik yang masih TK A dan playgroup. Mereka latihan baca surat-surat Al-Qur’an, hafalan hadits, menari tarian burung, kepompong, senam dan ikrar, dan masih banyak lagi. Aku sendiri cuma ikut acara wisudanya aja. Papa dan mama mengajariku untuk malu dari kecil jika harus menyanyi di depan orang lain. Apalagi kalau menari. Kata papa dan mama, kalau dari kecil tidak dibiasakan malu, nanti lama-lama jadi susah malunya. Bisa-bisa kalau sudah besar bahkan tidak malu-malu lagi. Kata papa dan mama, Rosulullah mengajarkan untuk malu jika perempuan dilihat laki-laki, dan laki-laki dilihat perempuan.


Tempat akhirussanahnya di aula Wijayakarta, Makorem, Jababeka. Acaranya lama banget. Dari pagi sampai siang. Karena aku ikut acara wisudanya aja, jadi aku gak capek-capek tampil di panggung. Tapi, aku jadi capek nunggu penampilan teman-teman. Sampai aku lapar. Untungnya, papa beliin aku susu dan jajan di dekat aula. Menjelang siang aku dapat makan dari sekolah. Karena Azizah, adikku, ikut juga. Jadi, mama menyuapi aku dan Azizah sambil lihat teman-temanku di panggung.


Menjelang acara wisuda, aku memakai baju wisuda. Semua temanku juga memakainya. Hi..hi..hi… bajunya panjang sekali. Pakai topi wisuda yang ada talinya, pakai kalung yang dari kain. Wah, aku senang memakainya.

Akhirnya, tiba giliranku tampil di panggung. Aku dan teman-temanku dipanggil satu persatu ke atas panggung. Kami membawa bintang yang dibuat dari karton dan dilapisi kertas emas. Bintang itu dikasih pegangan dari sumpit. Di depan bintang, ada tulisan huruf dan hiasan-hiasan. Kalau aku dan teman-teman berbaris sambil membawa bintang itu, huruf-hurufnya bisa dibaca, yaitu “Akhirussanah”. Aku sendiri berada di depan dan memegang huruf “A”. Di belakang bintang, ada tulisan yang akan kami baca satu persatu. Bacaannya itu katanya sebagai ungkapan terima kasihku dan teman-teman kepada bu guru yang sudah bersabar mengajari aku dan teman-teman selama di sekolah. Aku dan teman-teman jadi bisa membaca, menulis, mengaji, menghafal surat-surat Al-Qur’an, menghafal hadits-hadits, dan lain-lain.

Waktu di panggung, Gilang, temanku, menangis. Mungkin karena dia tidak bisa membaca tulisan di belakang bintangnya. Aku lihat tulisan itu sempat jatuh. Kasihan juga si Gilang. Acara wisuda belum selesai, dia masih terlihat menangis, sampai-sampai dia turun duluan dari atas panggung digendong bu guru. Tapi, lama-lama, aku lihat dia sudah berlari-lari lagi. Hi…hi..hi… Gilang… Gilang…


Setelah mengucapkan ikrar dan mars Bina Auladia, aku dan teman-teman turun dari panggung. Habis itu, aku dan teman-teman dipanggil lagi satu persatu. Tapi, kali ini orang tuanya juga dipanggil. Di panggung, aku menerima kalung dari kain dan ada bulatan besar di tengahnya bergambar lambang Bina Auladia. Aku juga menerima ijazah, buku kenangan, foto wisuda dan piala. Piala itu ada tulisannya aku adalah siswa cerdas membaca. Mama menciumku di atas panggung.


Semua teman-teman mendapat piala. Ada yang menjadi siswa cerdas membaca seperti aku, ada yang cerdas menghafal, cerdas matematika, senang berbagi, dan lain-lain.. Teman-teman juga senang kelihatannya.

Wah, tidak terasa, akhirnya acaranya selesai juga sampai siang. Alhamdulillah, mama juga mendapat hadiah, katanya itu door prize. Mama dapat alat untuk memanggang ayam.



Aku senang sekali hari itu. Sampai sekarang, aku masih kangen sama bu guru dan teman-temanku di TK.


Terima kasih bu guru…. Terima kasih juga teman-teman. Mudah-mudahan kita bisa berjumpa lagi di lain waktu ya…

























Wassalaam,

Aisyah Nur Ihsan

2 komentar:

ImaN mengatakan...

Selamat ya Aisyah, mau masuk sd mana nih?

ImaN mengatakan...

Selamat ya Aisyah, mau masuk sd mana nih?